Harta seseorang haram dimiliki oleh orang lain kecuali dengan cara-cara yang dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Seseorang tidak dibenarkan mengambil hak orang lain kalau tidak disertai kerelaan dari pemiliknya. Jika nekad melakukannya, maka pencuri tersebut telah berbuat zalim dan melanggar batasan yang Allah telah tetapkan. Termasuk perbuatan yang dianggap paling zalim dalam masalah ini adalah tindakan mencuri tanah orang lain. Alasannya karena pencuri akan menggunakan dan menguasai barang haram tersebut secara zalim dalam jangka waktu yang sangat lama.

Nabi secara khusus mengancam orang-orang yang berbuat kezaliman; entah itu banyak ataupun sedikit, yang dalam pembahasan ini kezaliman itu berupa perbuatan mencuri tanah orang lain, maka orang tadi akan disiksa dengan azab yang sangat pedih dan mengerikan. Hukumannya, Allah akan menebalkan dan memanjangkan lehernya, kemudian Allah mengalungkan tanah yang dicurinya beserta tujuh lapis ke bawahnya di leher orang tersebut. Itulah balasan untuk mereka yang menguasai tanah orang lain secara zalim.

Aisyah radiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من ظلم قيد شبر من الأرض طوقه من سبع أرضين

“Barangsiapa menguasai sejengkal tanah orang lain dengan cara yang zalim, maka tanah itu beserta tujuh lapis bumi yang ada di bawahnya akan dikalungkan di lehernya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perbuatan mencuri diharamkan karena mengandung unsur kezaliman. Allah mengharamkan diri-Nya dan hamba-Nya untuk berbuat kezaliman. Banyak ataupun sedikit, selama hal itu adalah kezaliman, maka hukumnya tetap haram. Ini ditegaskan dengan jelas dalam isyarat sejengkal tanah yang ada pada hadits. Apalah arti sejengkal tanah. Barangkali sebagian orang menganggap remeh kezaliman yang sedikit ini. Namun Allah tidak akan membiarkannya. Walau sedikit, balasannya tetap berat dan mengerikan.

Orang yang memiliki tanah, artinya dia juga menjadi penguasa terhadap apa yang ada di bawah tanah tersebut. Apapun yang terpendam di dalamnya; barang tambang, bebatuan, dan yang lainnya, maka semua itu menjadi hak pemilik tanah. Bahkan termasuk udara yang ada di atasnya pun menjadi miliknya karena hukumnya mengikuti tanah yang ada di bawahnya. Dengan begitu, orang lain tidak boleh menggali lubang atau mengambil sesuatu dari dalam tanah tersebut tanpa izin dari pemiliknya.

Cara bertaubat dari dosa ini adalah dengan memohon ampun kepada Allah serta mengembalikan tanah orang lain yang telah diambil dan dikuasai olehnya. Misalkan dengan mengubah surat tanah yang dulu dia manipulasi untuk memperpanjang batas tanahnya, dan semisal dengan itu. Apabila sudah berusaha mencari bertahun-tahun namun tidak ketemu dengan pemilik tanah maupun ahli warisnya, maka dia sedekahkan uang senilai harga tanah tersebut dan diniatkan pahalanya untuk pemilik tanah yang asli, ataupun dia berikan tanah itu sebagai wakaf agar dikelola dan dimanfaatkan untuk kepentingan kaum muslimin.

Sumber bacaan: Taisirul ‘Allam Syarh Umdatul Ahkam, Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam, Maktabah Al-Usariyah, Mekah, 2012, hlm. 384

 

Website : www.aburivai.com

Penyusun : Muhammad Abu Rivai