PRINSIP DASAR EKONOMI ISLAM

PRINSIP DASAR EKONOMI ISLAM

Ekonomi Islam berdiri di atas prinsip perdagangan yang berdasarkan syariat, yaitu dengan mengembangkan harta melalui cara-cara yang  dihalalkan oleh Allah ta’ala sesuai dengan kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan muamalah syar’iyyah yang didasarkan pada hukum pokok (boleh dan halal dalam berbagai mu’amalat) serta menjauhi semua perkara yang diharamkan Allah ta’ala, seperti riba dan yang lainnya.

Allah ta’ala berfirman “Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)

Allah juga berfirman “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan banyak-banyaklah mengingat Allah supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)

@ Muhammad Abu Rivai

Website : www.aburivai.com

Telegram : t.me/aburivaicom

DUA SYARAT HIDUP BERKAH

DUA SYARAT HIDUP BERKAH

Al-Barakah secara bahasa artinya berkembang, bertambah dan kebahagiaan. (Al-Misbahul Munir, 1/45. Al-Qamus Al-Muhith, 2/1236. Lisanul Arab 10/395). Imam Nawawi –semoga Allah selalu merahmatinya- mengatakan bahwa “Asal makna keberkahan adalah kebaikan yang banyak dan abadi.” (Syarhu Shahih Muslim, oleh An-Nawawi 1/225)

Ada dua syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan keberkahan dalam hidup; yaitu iman dan amal salih.

SYARAT PERTAMA : IMAN KEPADA ALLAH

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Andaikata penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” [QS. Al-A’raf : 96]

Syarat terpenting untuk mendapatkan keberkahan adalah beriman kepada Allah dan merealisasikan iman dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, orang-orang yang tidak beriman dan tidak merealisasikan iman dalam kehidupannya, niscaya mereka tidak akan mendapatkan keberkahan.

Berikut adalah beberapa contoh perwujudan iman dalam kehidupan seseorang, diantaranya:

  • Yakin dan sadar bahwa semua rezeki dan kenikmatan apapun yang didapatkan adalah bentuk karunia dan kemurahan dari Allah, bukan didapatkan semata-mata karena kerja keras dan kejeniusan seseorang. Yakin dan sadar bahwa Allah telah menentukan rezeki hamba-Nya sejak masih dalam kandungan serta tidak melupakan Allah ketika mendapatkan kenikmatan. Allah telah mengingatkan,

“Qarun berkata : “Sesunguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak harta kumpulannya ..” [QS. Al-Qashah : 78]

 

  • Selalu menyebut nama Allah ketika hendak menggunakan kenikmatan yang Allah berikan seperti makan, minum dan menggauli istri.

 

“Dari Aisyah –semoga Allah selalu meridainya-, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu ketika sedang makan bersama enam orang sahabatnya, tiba-tiba datang seorang Arab badui, lalu menyantap makanan beliau dalam dua kali suapan (saja). Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ketahuilah, seandainya ia menyebut nama Allah (membaca Bismillah), niscaya makanan itu akan mencukupi kalian”. [HR Ahmad, An-Nasa-i dan Ibnu Hibban]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda,

“Ketahuilah bahwasanya salah seorang dari kamu bila hendak menggauli istrinya ia berkata: “Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari anak yang Engkau karuniakan kepada kami”, kemudian mereka berdua dikaruniai anak (hasil dari hubungan tersebut) niscaya anak itu tidak akan diganggu setan” [HR Al-Bukhari]

SYARAT KEDUA : MELAKUKAN AMAL SALIH

Melakukan amal salih artinya melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya sesuai dengan tuntunan yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Amal salih adalah perwujudan takwa yang merupakan syarat untuk mendapatkan keberkahan sebagaimana yang Allah telah sebutkan di dalam QS. Al-A’raf ayat 96 di atas.

Allah ta’ala berfirman,

“Dan sekiranya mereka benar-benar menjalankan Taurat, Injil dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka, niscaya mereka akan mendapatkan makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka” [QS. Al-Ma’idah : 66]

Para ulama tafsir menjelaskan, bahwa yang dimaksud dengan “mendapatkan makanan dari atas dan dari bawah kaki”, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala akan melimpahkan kepada mereka rezeki yang sangat banyak dari langit dan dari bumi, sehingga mereka akan mendapatkan kecukupan dan berbagai kebaikan, tanpa susah payah, letih, lesu, dan tanpa adanya tantangan atau berbagai hal yang mengganggu ketentraman hidup mereka. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/76)

Allah ta’ala juga berfirman,

“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua anak yatim di kota itu, dan dibawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Rabbmu menghendaki agar mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Rabbmu” [QS. Al-kahfi : 82]

Allah mengirim nabi Khidir untuk membangun kembali dinding yang hendak roboh demi menjaga harta warisan yang dimiliki dua anak yatim tersebut. Sebabnya adalah kesalihan kakeknya yang ketujuh, sebagaimana yang disebutkan oleh ulama ahli tafsir. Jadi ayah yang dimaksud pada ayat tersebut bukanlah ayah kandungnya. Walau demikian, ternyata pengaruh kesalihan itu masih bisa dirasakan oleh cucu di keturunan ketujuh.

Ibnu Katsir –semoga Allah selalu merahmatinya- berkata,

“Pada kisah ini terdapat dalil bahwa anak keturunan orang shalih akan dijaga, dan keberkahan amal shalihnya akan meliputi mereka di dunia dan di akhirat. Ia akan memberi syafa’at kepada mereka, dan derajatnya akan diangkat ke tingkatan tertinggi, agar orang tua mereka menjadi senang, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an dan Sunnah.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/99)

Berlaku sebaliknya, yaitu ketika seseorang enggan melaksanakan amal salih dan justru mengerjakan kemaksiatan, maka Allah akan menjauhkannya dari kebaikan dan menghilangkan keberkahan dari hidupnya.

@ Muhammad Abu Rivai

Website : www.aburivai.com

Telegram : t.me/aburivaicom