SUMPAH DALAM JUAL BELI

SUMPAH DALAM JUAL BELI

Hukum sumpah dalam jual beli secara mutlak adalah makruh, baik yang melakukannya seorang pendusta maupun orang yang jujur. Jika yang melakukan sumpah tersebut adalah seseorang yang suka berdusta dalam sumpahnya, maka sumpahnya menjadi makruh dan mengarah ke haram karena terlalu seringnya dia berdusta. Lebih-lebih kalau dia memang berdusta ketika bersumpah, dosanya lebih besar dan azabnya sangat pedih.

Bagi pedagang yang suka bersumpah untuk melariskan dagangannya, ketahuilah bahwa sumpah dapat menghilangkan keberkahan jual beli dan perniagaan. Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الحلف منفقة للسلعة وممحقة للبركة

‘Sumpah itu dapat melariskan dagangan dan menghilangkan keberkahan.’” (HR. Bukhari Muslim)

Selain itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menegaskan di dalam hadits yang lain:

ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة، ولا ينظر إليهم، ولا يزكهم ولهم عذاب أليم

“Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat kelak, Dia tidak akan melihat mereka dan Dia juga tidak akan menyucikan mereka, serta bagi mereka azab yang pedih.”

Abu Dzarr berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkannya sebanyak tiga kali.” Kata Abu Dzarr juga, “Mereka benar-benar gagal dan merugi. Siapakah orang-orang itu wahai Rasulullah?” Kata Rasulullah:

المسبل والمنان والمنفق سلعته بالحلف الكاذب

“(1) Pria yang memanjangkan pakaiannya di bawah mata kaki, (2) orang yang menyebut-nyebut pemberiannya dan (3) orang yang melariskan dagangannya dengan menggunakan sumpah palsu.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Sumpah dalam jual beli yang dilakukan dengan penuh kejujuran hukumnya tetap makruh, namun makruh tanzih bukan makruh tahrim. Maksud dari makruh tanzih adalah sesuatu yang sebaiknya dihindari. Jangan sampai banyak mengumbar sumpah untuk melariskan dagangan atau bermudah-mudahan melakukan sumpah hanya untuk meningkatkan daya tarik calon pembeli. Padahal Allah subahanahu wa ta’ala telah menyebutkan:

“Sesungguhnya orang-orang yang menukar janjinya dengan Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bagian pahala di akhirat dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka dan tidak akan melihat mereka pada hari kiamat serta tidak akan menyucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.” (QS. Ali Imran: 77)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

إياكم وكثرة الحلف في البيع، فإنه ينفق ثم يمحق

“Hindarilah banyak bersumpah dalam jual beli karena sesungguhnya sumpah itu memang bisa melariskan, tapi kemudian dia akan melenyapkan.” (HR. Muslim, Ahmad, An-Nasai, Ibnu Majah dan Abu Daud)

@ Catatan faedah dari kumpulan fatwa al-Lajnah Ad-Daa-imah, pembahasan jual beli.

Rimba Melintang | 28 Juni 2018 | Muhammad Abu Rivai

 

Website : www.aburivai.com

Telegram : t.me/aburivaicom

MERAUP KEUNTUNGAN MELEBIHI 10%

MERAUP KEUNTUNGAN MELEBIHI 10%

Menurut syariat, keuntungan seorang pedagang tidak dibatasi oleh hitungan persentase. Selama tidak menipu pembeli, maka diperbolehkan untuk menjual dengan harga yang lebih tinggi dari harga pasar. Hanya saja, seorang muslim disyariatkan untuk bersikap toleran dalam menjual dan membeli serta tidak mengejar keuntungan terlalu tinggi. Hal ini berdasarkan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk bersikap toleran dalam hal muamalah.

@ Muhammad Abu Rivai

Website : www.aburivai.com

Telegram : t.me/aburivaicom

KERJASAMA DALAM JUAL BELI

KERJASAMA DALAM JUAL BELI

Seandainya ada beberapa orang yang bersekutu untuk memperjualbelikan suatu barang, kemudian barang tersebut mengalami kerugian karena rusak ataupun mengalami penurunan harga, maka masing-masing orang yang bersekutu harus ikut menanggung kerugian sesuai dengan kadar uang yang dibayarkan dalam persekutuan tersebut.

@ Muhammad Abu Rivai

Website : www.aburivai.com

Telegram : t.me/aburivaicom

JUAL BELI DENGAN ORANG KAFIR

JUAL BELI DENGAN ORANG KAFIR

Pada asalnya, orang muslim boleh membeli kebutuhannya dari siapa saja; baik orang muslim maupun orang kafir. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun pernah membeli dari orang Yahudi. Akan tetapi, hukum berubah menjadi haram ketika orang muslim membeli dari orang kafir dan meninggalkan pedagang muslim tanpa sebab. Selain dapat melemahkan perdagangan kaum muslimin jika dilakukan terus menerus, mengutamakan orang kafir ketimbang orang muslim tanpa alasan juga merupakan perbuatan terlarang. Hal itu termasuk bentuk loyalitas, ridha dan cinta kepada orang-orang kafir.

Diantara sebab yang membolehkan seorang muslim untuk berpaling dari pedagang muslim dan lebih memilih untuk membeli dari orang kafir adalah faktor kualitas barang, akurasi timbangan, mahal murah harga, jauh dekat jarak, dan seterusnya. Hal yang semestinya dilakukan adalah memberikan nasehat kepada pedagang muslim tersebut agar tetap menjaga kualitas barang, tidak melakukan kecurangan dan seterusnya. Kalau dia menerima nasehat tersebut, alhamdulillah, kalau tidak, maka seorang muslim tetap boleh membeli kebutuhanya dari orang lain sekalipun kafir.

@ Catatan faedah dari kumpulan fatwa al-Lajnah Ad-Daa-imah, pembahasan jual beli.

Rimba Melintang | 28 Juni 2018 | Muhammad Abu Rivai

Website : www.aburivai.com

Telegram : t.me/aburivaicom

HARAM DIMANFAATKAN, HARAM UNTUK DIJUAL

HARAM DIMANFAATKAN, HARAM UNTUK DIJUAL

Diharamkan menjual alat-alat musik, cangklong, dan benda-benda lain yang merupakan sarana kemaksiatan dan kemusyrikan seperti patung, binatang yang diawetkan dan lain-lain. Benda-benda yang haram dimanfaatkan, haram pula diperjualbelikan. Selain itu, perkara tersebut merupakan salah satu bentuk bantuan terhadap kemungkaran, kerusakan, kemaksiatan, bid’ah dan kemusyrikan.

@ Muhammad Abu Rivai

Website : www.aburivai.com

Telegram : t.me/aburivaicom