Mencuri artinya menyimpan harta orang lain dari tempat penyimpanannya secara sembunyi-sembunyi dan status orang yang mengambil bukan sebagai orang yang dititipi untuk menjaga harta tersebut. Perbuatan ini dilarang demi menjaga harta kaum muslimin sekaligus mencegah perbuatan yang melampaui batas berupa mengambil milik orang lain dengan cara yang tidak dibenarkan. Mencuri juga tidak diperbolehkan demi menjaga keamanan manusia itu sendiri karena harta termasuk hal yang harus dilindungi. Menjaga harta agar tetap aman pada pemiliknya bisa terwujud dengan dilarangnya perbuatan mencuri.

Harta menjadi salah satu kebutuhan dalam hidup dan tidak mungkin manusia bisa berlepas diri dari harta. Penjagaan terhadap harta pun menjadi salah satu tujuan yang ingin diwujudkan oleh Islam. Perhatian syariat terhadap masalah ini cukup besar, sehingga Islam berusaha menutup semua jalan dan sarana yang menyebabkan rusaknya hukum asal, yaitu harta harus terjaga dengan aman di penyimpanan pemiliknya. Hal-hal yang merusak tujuan penjagaan harta bisa jadi berasal dari pemilik harta yang membelanjakannya pada sesuatu yang diharamkan Allah, atau bisa juga berasal dari selain pemilik semisal pencurian dan penipuan.

Mencuri adalah perbuatan yang diharamkan. Islam memberikan hukuman yang berat terhadap pelaku pencurian. Tujuannya adalah untuk mencegah pencuri agar tidak mengulangi perbuatannya kembali serta memberikan peringatan kepada selainnya agar tidak mengikuti jejak pencuri tersebut. Sehingga fungsi hukuman yang diberikan Islam adalah untuk mengobati pelaku yang sudah terlanjur berbuat dosa dan juga untuk mencegah orang lain yang berniat untuk melakukan dosa.

Allah menyebutkan di dalam Al-Quran bahwa hukuman untuk pencuri adalah potong tangan. Sekali lagi, tujuan diberikan hukuman yang berat ini adalah untuk menghentikan pencuri, menyelamatkan orang lain dari keburukan pencuri, dan memberikan efek jera agar pencuri tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Hukuman ini sangat manjur dan bermanfaat untuk mengobati penyakit orang-orang yang suka mencuri. Sekedar mendengar pengumuman pelaksanaan eksekusi potong tangan, maka orang-orang yang berencana untuk mencuri akan berfikir berulang kali sebelum beraksi. Sebab kalau ketahuan, nasib yang sama akan mereka rasakan, yaitu tangan mereka akan dieksekusi.

Sebagian mengira bahwa hukuman potong tangan adalah tindak kejahatan yang berasal dari Islam dan bertentangan dengan hak asasi manusia. Padahal kalau orang-orang mau membandingkan dengan besarnya keburukan yang muncul akibat pencurian ini, niscaya mereka akan mengakui bahwa potong tangan adalah bentuk keadilan dan wujud kasih sayang. Begitu hukuman ini diterapkan, pencuri akan berfikir seribu kali sebelum bertindak dan masyarakat akan merasa aman.

Hukuman potong tangan diperlukan karena sebagian manusia memang sudah tidak punya rasa malu, tidak amanah, beragama tapi seperti tidak punya agama, tidak memiliki timbang rasa, dan bahkan sudah sama seperti orang yang tidak berakal. Sehingga nasehat dan ancaman benar-benar tidak bermanfaat lagi untuk menjelaskan kepada mereka bahwa mencuri tidak diperbolehkan. Kalau bukan hukuman potong tangan yang berbicara kepada mereka, niscaya mereka akan terus mengulangi dan terus mencuri. Pintu kerusakan terus terbuka dan rasa aman hanya menjadi angan-angan.

Hukuman bagi pencuri sebenarnya juga sudah ada di dalam syariat sebelum Islam. Hanya saja, model syarat dan ketentuan pelaksanaannya yang berbeda-beda sesuai dengan perkembangan zaman yang ada. Ibnu Katsir misalnya, beliau menyebutkan bahwa hukuman bagi pencuri di zaman Nabi Ibrahim adalah menjadi budak bagi pemilik harta. Jadi bukan potong tangan. Namun sebagian ulama ahli tafsir semisal Imam Qurthubi menyatakan bahwa hukuman potong tangan adalah hal yang lumrah di kalangan bani Israil. Beliau berdalil dengan hadits yang menceritakan tentang sebab kerusakan bani Israil, yaitu ketika pencuri berasal dari kalangan bangsawan, mereka membiarkannya. Sebaliknya kalau pencuri berasal dari rakyat biasa, mereka memotong tangannya.

Namun poin penting yang sebenarnya ingin disampaikan pada tulisan ini adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh seorang pencuri, yaitu mengembalikan harta curian kepada pemiliknya walaupun tangannya sudah dipotong. Sebab itu adalah harta orang lain yang dijaga dan dihormati kedudukannya oleh syariat. Tidak boleh diambil tanpa seizing pemiliknya. Sehingga tetap wajib untuk mengembalikan karena mencuri bukan usaha yang dibenarkan untuk memindahkan kepemilikan sesuatu. Rasulullah menegaskan dengan jelas bahwa harta yang ada pada pencuri harus dikembalikan.

Apabila harta curian sudah rusak atau hilang, maka kewajiban pencuri adalah mengembalikan barang yang semisal atau senilai dengan barang yang dia curi. Kewajiban untuk mengembalikan tidak gugur dengan adanya potong tangan. Syariat tidak pernah menyatakan bahwa potong tangan menjadi sebab berpindahnya kepimilikan barang ke tangan pencuri. Potong tangan adalah hak Allah. Sedangkan pengembalian adalah hak pemilik harta. Keduanya tidak bisa saling menggugurkan, alias harus dilaksanakan semuanya agar hak Allah dan hak pemilik harta bisa ditunaikan.

Adapun persangkaan sebagian orang yang mengira bahwa potong tangan membuat pencuri tidak perlu mengembalikan harta curian adalah pendapat yang tidak tepat. Hadits-hadits yang digunakan untuk mendukung pendapat ini adalah hadits yang tidak dikenal, tidak ada asal usulnya dari nabi dan mungkar. Demikian yang disampaikan oleh para ulama. Sehingga hadits-hadits tersebut tidak bisa menjadi hujah dan pencuri tidak berhak untuk memiliki barang hasil curiannya.

Seandainya barang curian tadi dicuri lagi oleh orang lain, maka pencuri kedua tidak berhak mendapatkan potong tangan karena syarat berlakunya hukuman ini adalah mengambil harta curian dari penyimpanan pemiliknya. Sementara pencuri pertama bukan pemilik harta sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Pencuri pertama bukan pemilik, bukan orang yang dititipi oleh pemilik dan juga bukan orang yang meminjamnya dari pemilik, sehingga mengambil harta dari pencuri pertama sama seperti mengambil harta yang tercecer di jalan.

Sumber bacaan: Ahkam Al-Mal Al-Haram wa Dhawabithu Al-Intifa’ wa At-Tasharruf bihi fil Fiqhi Al-Islami, Abbas Ahmad Muhammad Al-Baz, Dar An-Nafais, 1998, hlm. 49-52

Penyusun : Muhammad Abu Rivai

Website : www.aburivai.com