وَعَنْ أَبِي اَلزُّبَيْرِ قَالَ: سَأَلْتُ جَابِرًا عَنْ ثَمَنِ اَلسِّنَّوْرِ وَالْكَلْبِ؟ فَقَالَ: زَجَرَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَنْ ذَلِكَ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ، وَالنَّسَائِيُّ وَزَادَ: إِلَّا كَلْبَ صَيْدٍ

Abu Zubair radiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa dia bertanya kepada Jabir radiyallahu ‘anhu tentang hukum jual beli anjing dan kucing. Beliau kemudian menjawab, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang hal tersebut.” (HR. Muslim) Sementara dalam riwayat An-Nasa-i ada tambahan lafal “kecuali anjing yang digunakan untuk berburu.”

Hadis ini sudah pernah disinggung dalam pembahasan tentang hukum jual beli anjing. Sebagian ulama ada yang membolehkan jual beli anjing yang digunakan untuk berburu karena berdalil dengan tambahan lafal pada hadis yang disebutkan dalam riwayat An-Nasa-i. Akan tetapi, ini merupakan pendapat yang lemah karena tambahan lafal tentang pengecualian yang menyebutkan adanya jual beli anjing yang diperbolehkan merupakan tambahan yang tidak sahih. Dengan demikian, pendapat tersebut tidak didukung oleh dalil.

Menurut hadis ini, hukum jual beli kucing adalah haram. Tidak boleh mengambil uang hasil dari penjualan kucing. Alasan pengharamannya adalah karena kucing merupakan benda yang najis secara zatnya. Kucing dipelihara ketika ada kebutuhan semisal untuk membasmi tikus, serangga dan hal yang semisal. Pendapat yang menyatakan bahwa hukum jual beli kucing adalah haram didukung oleh Jabir bin Abdillah, Abu Hurairah radiyallahu ‘anhuma, Thawus, Mujahid, dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Selain itu, pendapat ini juga dipilih oleh Abu Bakar Abdul Aziz, Ibnul Qayyim dan Ibnu Rajab.

Sementara itu, mayoritas ulama termasuk mazhab Hambali membolehkan jual beli kucing. Al-Khiraqi dalam kitab Mukhtasharnya juga memilih pendapat ini. Dalil mereka adalah karena kucing memiliki manfaat yang mubah sehingga boleh untuk diperjualbelikan. Adapun larangan pada hadis, berlaku untuk kucing yang tidak memiliki manfaat ketika dipelihara, atau larangan tersebut tidak sampai ke level haram, hanya makruh atau kurang disukai saja. Ini tanggapan pendapat mayoritas dalam menyikapi hadis di atas.

Adapun penulis kitab Minhatul ‘Allam fi Syarh Bulughil Maram menguatkan pendapat yang pertama, yaitu haramnya jual beli kucing karena hadis yang melarangnya jelas, tegas dan sahih. Sehingga wajib untuk mengamalkannya. Beliau juga membawakan perkataan Al-Baihaqi yang menyatakan:

متابعة ظاهر السنة أولى، ولو سمع الشافعي الخبر الوارد فيه لقال به إن شاء الله

“Mengikuti teks hadis lebih utama dan seandainya Imam Syafii mendengarkan hadis ini, insyaallah beliau akan berpendapat seperti yang disebutkan oleh hadis.” (As-Sunan Ash-Shaghir, 2/278)

Adapun pendapat kedua yang tidak mengamalkan hadis dan berpaling dari teks hadis tanpa didasari oleh dalil, tentu tidak lebih kuat ketimbang pendapat yang pertama tadi. Wallahu a’lam.

Sumber bacaan: Minhatu Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, Dar Ibnul Jauzi, 1429H, hlm. 40-41

Penyusun : Muhammad Abu Rivai

Website : www.aburivai.com