عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: أَعْتَقَ رَجُلٌ مِنَّا عَبْداً لَهُ عَنْ دُبُرٍ لَمْ يَكُنْ لَهُ مَالٌ غَيْرُهُ. فَدَعَا بِهِ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَبَاعَهُ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Jabir bin Abdillah radiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa seseorang diantara mereka berkata kepada budaknya kalau dia akan menjadi orang merdeka bersamaan dengan wafatnya orang tadi. Padahal orang yang menjanjikan tadi tidak memiliki harta yang lain kecuali budak tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian memanggil orang itu dan menjual budaknya tadi. (Muttafaq ‘alaihi)

Mudabbar adalah istilah yang digunakan untuk budak yang dijanjikan merdeka oleh tuannya bersamaan dengan kematian pemilik budak tersebut. Misalkan A sebagai tuan dan B sebagai budak. A berkata kepada B, “kamu bebas tanpa syarat kalau saya meninggal dunia”, “B, kalau saya meninggal dunia maka kamu menjadi orang yang merdeka”, atau ungkapan lain yang semisal dengan itu. Begitu A meninggal dunia, maka B otomatis bebas karena syaratnya sudah terpenuhi, yaitu kematian tuannya.

Mudabbar sendiri adalah isim maf’ul dari kata dabbara yang asalnya dari kata dubur, maksudnya belakang sesuatu. Kaitannya dengan budak yang dijanjikan bebas tadi adalah karena kebebasannya ada di belakang (setelah) kematian tuannya dan kematian itu ada di belakang (setelah) kehidupan. Secara asal usul bahasa seperti itu penjelasan singkatnya.

Hadis di atas dengan jelas menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjual mudabbar tadi setelah Nabi mengetahui bahwa tuannya tidak memiliki apa-apa kecuali budak tadi. Dalam beberapa riwayat yang lain juga disebutkan beberapa ungkapan senada yang menunjukkan bahwa orang tersebut memang tidak memiliki harta yang lainnya. Sehingga dalam masalah hukum menjual mudabbar, ulama terbagi menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama mengatakan bahwa mudabbar tidak boleh dijual kecuali karena ada kebutuhan yang sangat mendesak seperti untuk membayar utang atau memberikan nafkah. Pendapat ini dipilih oleh Atha’, Hasan Bashri, Ibnu Daqiq Al-‘Id, dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad.

Sementara itu kelompok kedua mengatakan bahwa mudabbar boleh dijual secara mutlak. Artinya, sedang ada kebutuhan yang mendesak ataupun tidak, maka tuan tetap boleh menjual mudabbar karena sebenarnya budak itu tidak ada bedanya dengan budak yang lain. Masih murni milik tuannya sehingga bebas diperlakukan seperti budak yang lainnya. Ini adalah pendapat Imam Syafii dan juga merupakan pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad. Alasan mereka, ketika mudabbar boleh diperjualbelikan pada suatu kondisi, yaitu ketika sedang ada kebutuhan, maka mudabbar juga boleh untuk diperjualbelikan pada kondisi yang lainnya. Jadi kondisi mudabbar ini sebenarnya sama seperti wasiat yang boleh untuk dibatalkan kapanpun juga selama orang yang berwasiat itu masih hidup. Artinya, tuan budak tadi juga boleh membatalkan janjinya untuk membebaskan budak itu ketika dia meninggal dunia. Baik dengan cara mengucapkannya di lisan, atau memindahkan kepemilikan budak itu melalui jual beli atau hibah kepada orang lain.

Mengenai alasan dari kelompok pertama yang berdalih dengan teks hadis yang menyebutkan bahwa tuan budak itu membutuhkannya karena tidak memiliki harta yang lain, maka tidak ada kandungan hukum dalam hal itu. Artinya, alasan itu disebutkan untuk menunjukkan kenapa tuan itu berkeinginan untuk segera menjual budaknya tadi, yaitu karena ada kebutuhan. Selain itu, pelajaran penting yang ingin disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah bolehnya menjual mudabbar yang sudah dijanjikan untuk bebas tadi. Walaupun tentunya, kalau misalkan tuan tadi tidak ada kebutuhan, maka tidak menjualnya adalah yang lebih utama.

Meskipun begitu, sebenarnya kelompok pertama tadi berusaha untuk menggabungkan beberapa dalil yang ada. Ini insyaallah nanti ada pembahasan khusus yang lebih mendalam tentang mudabbar.

Sumber bacaan: Minhatu Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, Dar Ibnul Jauzi, 1429H, hlm. 33-34

Penyusun : Muhammad Abu Rivai

Website : www.aburivai.com