Pupuk kandang dibagi menjadi tiga kategori; najis, suci dan mutanajjis. Untuk pupuk kandang yang najis, maka ada pendapat yang mengatakan tidak sah untuk diperjualbelikan. Misalnya yang berasal dari kotoran keledai, kotoran manusia, atau kotoran najis yang sejenis. Alasannya karena pupuk jenis ini tidak boleh digunakan karena manusia dilarang menggunakan benda najis sebagai pupuk. Hanya saja, mayoritas ulama membolehkan penggunaan benda najis untuk dijadikan pupuk. Artinya, boleh menggunakan kotoran keledai dan kotoran manusia untuk memupuk tanaman. Muncul pertanyaan, kalau dibolehkan untuk menggunakan, apakah lantas boleh untuk memperjualbelikan pupuk kandang jenis ini?

Jawabannya jelas tidak boleh meskipun diizinkan untuk menggunakan. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bolehnya menggunakan lemak bangkai untuk melapisi dinding kapal, memoles kulit dan menjadi minyak lampu, beliau tetap tidak mengizinkan untuk memperjualbelikan lemak bangkai tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahui bahwa benda itu bermanfaat dan beliau mengizinkan untuk digunakan selama bukan untuk konsumsi. Tapi untuk jual beli, tidak sama sekali. Alasannya adalah karena lemak bangkai tadi merupakan benda najis. Hal yang sama berlaku untuk hukum jual beli pupuk kandang yang berasal dari benda najis. Tidak boleh diperjualbelikan walaupun diizinkan untuk digunakan. Memperjualbelikan dengan menggunakan adalah dua perbuatan yang berbeda.

Jenis pupuk kandang yang kedua adalah yang mutanajjis, yaitu pupuk kandang yang suci, namun bercampur dengan benda najis yang lain. Hukumnya boleh untuk diperjualbelikan karena pupuk kandang yang mutanajjis sangat mungkin untuk disucikan. Semua benda-benda yang suci, kemudian terkena najis, sehingga statusnya menjadi mutanajjis, apakah boleh diperjualbelikan sebelum najisnya dihilangkan?

Jawabannya boleh untuk diperjualbelikan karena sangat mungkin untuk menghilangkan najis dari benda yang mutanajjis tersebut. Sama halnya ketika seseorang menjual baju yang mutanajjis, anggaplah baju yang terkena kencing hewan yang najis. Baju itu tetap boleh untuk diperjualbelikan walaupun belum disucikan dari najis. Tentunya dengan catatan bahwa penjual wajib menjelaskan bahwa baju itu terkena najis sehingga statusnya mutanajjis. Dengan begitu pembeli tidak tertipu dan mendapatkan penjelasan yang sempurna tentang objek yang diperjualbelikan.

Adapun untuk pupuk kandang jenis ketiga, yaitu yang berasal dari kotoran hewan yang suci, maka boleh untuk memperjualbelikannya sama seperti benda suci lainnya yang mengandung manfaat. Pembahasan tentang pupuk kandang ini bisa dirujuk dalam materi tentang syarat sah jual beli, tepatnya pada syarat objek jual beli yang mana salah satu syaratnya adalah harus suci.

Sumber bacaan : Asy-Syarh Al-Mumti’ ‘Ala Zad Al-Mustaqni, 8/122-123

Penyusun : Muhammad Abu Rivai

Website : www.aburivai.com