وَعَنْ مَيْمُونَةَ زَوْجِ اَلنَّبِيِّ صَلَّى اَللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَرَضِيَ عَنْهَا أَنَّ فَأْرَةً وَقَعَتْ فِي سَمْنٍ، فَمَاتَتْ فِيهِ، فَسُئِلَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَنْهَا. فَقَالَ: “أَلْقُوهَا وَمَا حَوْلَهَا، وَكُلُوهُ “. رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

Maimunah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengisahkan bahwa ada tikus yang terjatuh ke samin dan mati di dalamnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian ditanya tentang hal itu dan beliau menjawab, “buang bangkainya dan samin padat yang ada di sekitar bangkai itu, sisanya silahkan dikonsumsi.” (HR. Bukhari)

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا وَقَعَتْ اَلْفَأْرَةُ فِي اَلسَّمْنِ، فَإِنْ كَانَ جَامِداً فَأَلْقُوهَا وَمَا حَوْلَهَا، وَإِنْ كَانَ مَايِعًا فَلَا تَقْرَبُوهُ. رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُدَ، وَقَدْ حَكَمَ عَلَيْهِ اَلْبُخَارِيُّ وَأَبُو حَاتِمٍ بِالْوَهْمِ

Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila ada tikus yang masuk ke dalam samin, maka cukup buang bangkainya dan samin yang ada di sekitar bangkai kalau kondisinya padat. Namun kalau samin dalam keadaan cair, maka buang seluruhnya.” (HR. Ahmad dan Abu Daud. Bukhari dan Abu Hatim menyebut ada kesalahan pada sanad hadis yang dilakukan oleh Ma’mar bin Rasyid)

Hadis Maimunah radiyallahu ‘anhu adalah dalil yang membuktikan jika ada tikus masuk ke samin dan mati, maka dia menyebabkan samin yang dikenai dan ada di sekitar bangkai menjadi najis. Sehingga samin yang terkena bangkai dan yang ada di sekitar bangkai wajib dibuang. Adapun sisanya, maka suci dan tetap boleh dikonsumsi. Dengan begitu, jelas bahwa bangkai tadi tidak mengubah seluruh samin menjadi najis. Hal ini berlaku ketika samin dalam jumlah banyak ataupun sedikit.

Hadis Maimunah radiyallahu ‘anhu juga sebenarnya tidak membedakan antara samin yang padat dan cair. Hukum dan perlakuannya tetap sama, karena jawaban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersifat mutlak, buang bagian yang terkena dan berada di sekitar bangkai dan manfaatkan bagian yang lainnya. Rasulullah sama sekali tidak membedakan antara samin padat dan samin cair, padahal samin yang banyak beredar di Mekah dan Madinah pada waktu itu adalah samin yang cair.

Ada pendapat kedua, yang membedakan cara menyikapi samin cair dengan samin padat. Untuk samin padat, yang dihukumi najis adalah yang terkena dan di sekitar bangkai saja, sementara sisanya tetap suci. Ibnu Abdil Barr bahkan menyatakan bahwa semua ulama sepakat tentang hal ini. Untuk samin cair, pendapat kedua ini mengatakan bahwa hukumnya berubah menjadi najis ketika ada najis yang masuk ke dalamnya. Menurut mereka, samin cair tetap najis walaupun najis yang masuk hanya sedikit dan tidak menyebabkan perubahan pada samin tersebut. Ini merupakan pendapat mayoritas ulama. Dalil yang menyebabkan mereka membedakan hukum samin padat dengan samin cair adalah pernyataan tambahan yang ada pada hadis Ma’mar, yaitu hadis yang kedua di atas.

Berdasarkan penjelasan di atas, terlihat bahwa penyebab perbedaan pendapat adalah status kesahihan pernyataan tambahan yang terdapat dalam hadis Ma’mar. Sebagian ulama mempermasalahkan tambahan tersebut, sehingga menurut pendapat pertama tadi tidak ada perbedaan antara samin padat dengan samin cair. Cara menyikapinya tetap sama karena jawaban Rasulullah bersifat mutlak tanpa membedakan keduanya.

Penulis kitab Minhatul ‘Allam Syarh Bulugh Al-Maram menguatkan dan memilih pendapat yang pertama. Menurut beliau, samin cair tetap dihukumi suci selama tidak terjadi perubahan setelah dimasuki oleh benda najis. Pendapat ini lebih kuat menurut dalil, dipilih menjadi fatwa oleh sebagian sahabat semisal Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhuma, serta yang dipilih oleh syaikh Abdul Aziz bin Baz, ungkap beliau.

Menurut beliau juga, pernyataan tambahan yang diriwayatkan oleh Ma’mar yang membedakan antara samin padat dengan samin cair adalah pendapat yang lemah sebagaimana yang dijelaskan oleh ulama hadis terkait masalah Ma’mar yang melakukan kesalahan dalam penyebutan jalur riwayat hadis. Dengan begitu, hadis yang diriwayatkan oleh Ma’mar tidak bisa menjadi dalil untuk membedakan samin cair dengan samin padat. Tidak hanya itu, pendapat pertama yang dipilih oleh beliau juga menambahkan, bahwa sebenarnya samin itu tidak sepenuhnya cair, karena samin memiliki kekentalan yang mendekati status padat.

Bantahan lain untuk pendapat kedua yang menghukumi najis untuk samin cair, tentunya akan sangat menyulitkan dan merugikan. Dalam masalah air yang jumlahnya sedikit atau kurang dari dua qullah, ketika dimasuki oleh najis yang sedikit sehingga tidak mengubah sifat asli air, mayoritas ulama menghukumi air itu tetap suci. Semestinya hal yang sama juga berlaku untuk benda cair lain seperti minyak, madu dan yang semisal dengan itu. Tidak serta merta dihukumi najis sebelum dipastikan bahwa cairan itu berubah sifat akibat masuknya najis ke dalamnya.

Sehingga hal penting yang perlu dicatat dari pendapat pertama yang tidak membedakan antara samin padat dan samin cair adalah perubahan sifat pada samin itu. Seandainya masuknya benda najis menyebabkan perubahan pada warna, bau atau rasa, maka samin cair itu tetap dihukumi najis dan harus dibuang seluruhnya. Ini juga berlaku untuk benda cair lain seperti susu, madu, zaitun, dan seterusnya. Penyebutan samin di dalam hadis karena itu adalah kasus yang dialami oleh Maimunah radiyallahu ‘anha dan ditanyakan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Penjelasan di atas berlaku ketika tikus masuk ke samin dan mati, sedangkan kalau tikus masuk kemudian keluar dalam keadaan hidup, maka tidak najis. Inilah yang disebut-sebut oleh ulama dalam kitab mereka, kucing dan hewan-hewan yang biasa seliweran di sekitar manusia dianggap suci ketika masih hidup. Sehingga ketika menyentuh makanan atau minuman tidak menyebabkan keduanya berubah menjadi najis.

Terakhir, pembahasan di atas berkaitan dengan halal dan haram untuk mengkonsumsi samin yang dimasuki oleh benda najis. Mayoritas ulama menyatakan bahwa samin cair yang dimasuki benda najis hukumnya haram untuk dikonsumsi. Sehingga kalau misalkan seseorang mengalami kejadian seperti ini, kemudian dia merasa jijik atau ragu tentang status kesucian minyak yang dia miliki, maka dia boleh membuangnya. Mengambil sikap kehati-hatian dan pendapat yang paling aman, yaitu mengikuti pendapat mayoritas ulama yang menghukuminya sebagai benda najis.

Berbeda halnya kalau merasa jijik pada mentega atau samin padat, maka tidak disarankan untuk membuangnya karena tidak semuanya berubah menjadi najis. Sikap yang dianjurkan adalah membuang bangkai beserta bagian yang terkena dan ada di sekitar bangkai, kemudian memberikan mentega atau samin padat itu kepada orang lain. Tidak mengapa kalau tidak menjelaskan alasannya. Sebab pada asalnya samin padat itu tetap suci. Tujuannya diberikan kepada orang lain adalah supaya tidak terjatuh dalam kesalahan membuang-buang harta yang masih bermanfaat.

Sumber bacaan: Minhatu Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, Dar Ibnul Jauzi, 1429H, hlm. 35-39

Penyusun : Muhammad Abu Rivai

Website : www.aburivai.com