عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ سُئِلَ: أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ؟ قَالَ: عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ، وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ. رَوَاهُ الْبَزَّارُ، وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ.

Dari Rifa’ah bin Rafi’ dia menuturkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya: “Apa mata pencaharian yang paling baik?” Beliau menjawab: “Pekerjaan yang dilakukan seseorang dengan tangannya dan semua jual beli yang mabrur.” (HR. Al-Bazzar dan disahihkan oleh Al-Hakim)

Al-kasbu artinya mata pencaharian, yaitu pekerjaan yang digunakan untuk mencari rezeki dan menjadi pokok penghidupan. Sedangkan athyab artinya yang paling halal dan yang paling berkah karena thayyib berarti halal. Asy-Syaibani mengatakan:

الاكتساب تحصيل المال بما يحل من الأسباب

“Bekerja atau al-iktisab itu adalah upaya untuk menghasilkan harta dengan melakukan sebab-sebab yang dihalalkan.” (Al-Kasbu, hlm. 34)

Walaupun pada lafal hadits disebutkan ar-rajul yang berarti laki-laki, namun hadits ini juga mencakup perempuan yang bekerja untuk menafkahi diri dan anak-anaknya. Kata ar-rajul digunakan karena mayoritas dan kebanyakan yang bertanggung jawab untuk mencari nafkah, menyiapkan tempat tinggal dan semua kebutuhan keluarga adalah laki-laki. Sedangkan mata pencaharian yang dilakukan dengan tangan atau yang disebut ‘amalul yadd, contohnya adalah petani, pandai besi, penulis, tukang kayu dan seterusnya.

Adapun jual beli yang mabrur atau bai’ mabrur, maksudnya adalah jual beli yang terpenuhi semua rukun dan syaratnya serta tidak ada penghalang atau perusak yang masuk di dalamnya. Tentunya ini adalah jual beli yang dilakukan dengan jujur, bebas dari unsur penipuan dan kecurangan.

Kalau diperhatikan, ternyata bekerja untuk mencari nafkah dan mengumpulkan rezeki yang halal  tidak bertentangan dengan konsep tawakal kepada Allah. Justru perbuatan tersebut adalah hal yang dianjurkan oleh syariat. Buktinya, Rasulullah tidak mempermasalahkan orang yang bertanya tentang pekerjaan apa yang paling halal dan paling berkah, beliau bahkan dengan senang hati menjawab dan memberikan penjelasan.

Selain itu, bekerja mencari nafkah merupakan gaya hidup para nabi dan Allah memerintahkan kita untuk mengikuti petunjuk mereka. Sebagaimana Allah tegaskan dalam QS. Al-An’aam ayat 90, “maka ikutilah petunjuk mereka.”. Nabi Zakariya adalah tukang kayu, nabi Daud tidak makan kecuali dari hasil pekerjaannya sendiri, Nabi Muhammad pun bekerja menggembalakan kambing orang Mekah dan menjualkan barang dagangan Khadijah.

Hadits ini juga memberikan pelajaran tentang semangat para sahabat yang lebih mementingkan kehalalan dan keberkahan ketimbang jumlah yang didapatkan. Pertanyaan yang diajukan bukan lagi tentang pekerjaan apa yang paling besar penghasilannya, tapi tentang pekerjaan apa yang paling halal dan berkah. Poin ini yang semestinya menjadi tujuan seorang muslim. Apapun yang diupayakan, hendaknya menjadikan halal sebagai ukuran utamanya. Dengan begitu, harta yang didapat akan terasa nikmat dan berkah, serta tidak lagi menggunakan cara-cara yang diharamkan untuk mendapatkan harta.

Perlu dicatat, ulama sebenarnya berbeda pendapat tentang profesi dan mata pencaharian apa yang paling afdal. Ada yang mengatakan bertani dan berkebun yang paling afdal. Ada yang mengatakan jual beli yang paling afdal. Ada yang mengatakan industri dan produksi sesuatu yang lebih afdal. Masing-masing punya alasan dan argumentasi. Syaikh Abdullah bin Shalih Al-Fauzan mengatakan, “Menurut saya, pendapat yang lebih tepat adalah tergantung masing-masing individu.” Maksudnya, bisa jadi pekerjaan A lebih afdal bagi individu B dan justru pekerjaan C lah yang lebih afdal bagi individu D. Alasannya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

احرص على ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجز

“Bersemangatlah melakukan hal yang bermanfaat untuk kalian. Mintalah pertolongan Allah dan jangan lemah.” (HR. Muslim)

Sementara itu, Asy-Syaibani menyatakan bahwa sebenarnya tidak perlu membahas masalah pekerjaan yang paling afdal. Sebab kehidupan di masyarakat membutuhkan semua skill, profesi dan mata pencaharian tadi. Rasulullah pun pernah menegaskan:

المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا

“Satu orang beriman dengan orang beriman lainnya ibaratkan bangunan yang saling menguatkan satu sama lainnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun pendapat Asy-Syaibani masih kurang tepat karena hadits yang disebutkan di atas menyatakan dengan jelas dan tegas bahwa pekerjaan dan profesi yang paling afdal adalah yang dilakukan oleh seseorang dengan tangannya sendiri. Bahkan pencaharian yang paling mulia adalah apa yang diambil dari harta orang kafir melalui jihad. Inilah pencaharian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat. Menjadi yang paling afdal dan paling mulia karena pada upaya tersebut ada unsur menegakkan kalimat Allah. (Zadul Ma’ad, 5/792-793)

Terakhir, Islam mengajarkan agar umatnya bekerja dan berusaha untuk mencari rezeki dengan cara yang halal. Serta selalu bersemangat untuk menjaga kehormatan diri dan keluarganya dari perbuatan meminta-minta atau hidup dari pemberian orang lain.

Sumber bacaan: Minhatu Al-‘Allam fii Syarh Bulugh Al-Maram, Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, Dar Ibnul Jauzi, 1429H, hlm. 7-10

Penyusun : Muhammad Abu Rivai

Website : www.aburivai.com