1. Bersemangat Mencari Rezeki Yang Halal

Pedagang muslim harus bersemangat untuk mencari rezeki yang halal dengan cara-cara yang halal. Bangun pagi hari dan memanfaatkan setiap kesempatan yang dimiliki dengan baik, sesuai motivasi yang disampaikan oleh Rasulullah melalui doanya,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا

 “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Shakhr Al-Ghamidi berkata, “Kalau Rasulullah mengutus ekspedisi atau pasukan, beliau memberangkatkannya di pagi hari.” Sedangkan Shakhr sendiri adalah seorang pedagang yang biasa mengirimkan barang dagangannnya di pagi hari hingga beruntung dan meraih harta yang berlimpah.

Namun demikian, semangat untuk mencari rezeki jangan sampai membuat pedagang muslim menjadi berlebihan dan bahkan sampai tidak lagi menghiraukan halal haram. Kata Rasulullah,

السمت الحسن والتؤدة والاقتصاد جزء من أربعة وعشرين جزءًا من النبوة

“Perangai yang baik, sifat kehati-hatian dan sikap tidak berlebihan merupakan bagian dari dua puluh empat bagian dari sifat kenabian.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Kemudian, semangat ini juga hendaknya selalu disertai dengan keyakinan bahwa Allah pasti akan menyempurnakan rezeki hamba-Nya, tidak ada yang terlambat atau salah alamat. Rasulullah mengajarkan,

لا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ , فَإِنَّهُ لَمْ يَكُنْ عَبْدٌ لِيَمُوتَ حَتَّى يَبْلُغَهُ آخِرُ رِزْقِهِ وَهُوَ لَهُ , فَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ : أَخْذِ الْحَلالِ أَوْ تَرْكِ الْحَرَامِ

“Janganlah kalian menganggap bahwa rezeki kalian terlambat datang. Karena seorang hamba tidak akan meninggal dunia sebelum dia mendapatkan semua rezeki yang ditetapkan untuknya secara sempurna. Maka perbaikilah doa dan usaha kalian, ambil yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

  1. Bersemangat Menjauhi Perkara Syubhat

Transaksi yang halal sudah jelas sebagaimana transaksi yang haram juga sudah sangat jelas. Namun ada transaksi yang masih syubhat dan samar, sehingga membingungkan dan tidak terlihat jelas sisi halal dan haramnya. Menyikapi hal ini, pesan yang diajarkan Rasulullah adalah untuk menjauhi dan meninggalnya. Siapapun yang melakukan itu, berarti dia telah menyelamatkan diri dan agamanya dari sesuatu yang berpotensi besar untuk mengantarkannya kepada hal-hal yang diharamkan oleh Allah.

Termasuk bentuk sikap menyelamatkan diri dari perkara syubhat adalah dengan memperbanyak sedekah. Khawatir jangan-jangan masih ada hak orang lain yang belum ditunaikan akibat adanya kecurangan, penipuan, dan kezaliman yang pernah dilakukan secara tidak sadar. Rasulullah telah mengingatkan hal ini melalui haditsnya,

يا معشر التجار ! إن البيع يحضره اللغو والحلف فشوبوه بالصدقة

“Wahai para pedagang, sesungguhnya perdagangan ini dihadiri oleh pendusta dan orang yang bersumpah, sehingga mengandung unsur yang sia-sia, maka leburlah itu semua dengan sedekah.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Nasai)

Mencatat utang dan transaksi jual beli yang dilakukan, bahkan menghadirkan saksi juga termasuk usaha untuk menjaga diri dari perkara syubhat dan haram. Ini adalah perbuatan yang dianjurkan dan terlebih lagi jika nominalnya cukup besar atau berpotensi menimbulkan konflik di kemudian hari karena lupa dan lain sebagainya. Allah telah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kmai menuliskannya.” (QS. Al-Baqarah: 282)

 

  1. Bersemangat Mempelajari Agama Islam

Ketika pedagang sudah menyadari bahwa dia harus mencari rezeki yang halal dengan cara yang halal dan meninggalkan semua rezeki maupun transaksi yang haram, hal berikutnya yang harus diselesaikan adalah mengenali rezeki yang halal, rezeki yang haram, transaksi yang halal, dan transaksi yang haram. Kalau tidak, maka sangat mungkin sekali seseorang melakukan sesuatu yang haram, namun menganggapnya sebagai sesuatu yang halal dan mubah.

Jauh-jauh hari, Rasulullah sudah menegaskan bahwa belajar adalah kewajiban setiap muslim. Asy-Syaukani mengatakan,

التفقه في الدين مأمور به في كتاب الله عز وجل، وفي صحيح الأخبار عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – وليس ذلك بخاص بنوع من أنواع الدَّين، بل في كل أنواعه، فيندرج تفقه التاجر للتجارة تحت الأدلة العامة ولا شك أن أنواع الدَّين تختلف باختلاف الأشخاص دون بعض، فمثلاً التاجر المباشر للبيع والشراء أحوج لمعرفة ما يرجع إلى ما يلابسه من غيره ممن لا يلابس البيع إلا نادراً

“Mempelajari agama Islam adalah hal yang diperintahkan oleh Al-Qur’an dan hadits Rasulullah. Perintah ini tidak hanya sebatas satu dua bagian agama saja, namun seluruh aturan dalam Islam juga harus dikenali. Fikih perdagangan yang disertai dalil-dalil umum termasuk bagian agama yang harus dipelajari oleh pedagang. Namun tentunya, tuntutan untuk memahami bagian-bagian agama ini tidak sama bagi semua orang. Misalkan saja seseorang yang berprofesi sebagai pedagang, yang pekerjaan utama dan kesehariannya tidak bisa lepas dari aktivitas jual beli, jelas dia lebih butuh untuk mempelajari dan mengerti tentang fikih jual beli ketimbang orang lain yang jarang berhubungan dengan kegiatan jual beli.” (Wablul Ghamam ‘Ala Syifa Al-‘Awwam, 2/122)

Penyusun : Muhammad Abu Rivai

Website : www.aburivai.com